Popular Posts

23 October 2018

Aruna dan Tidak Hanya Lidahnya

23 October 2018
Ketika pertama kali mendengar judul "Aruna dan Lidahnya", yang kemudian langsung terbayang dalam benak adalah bagaimana sosok Aruna yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo mencicipi segala macam makanan dalam film nanti. Itu juga didukung dari poster film yang didesain simpel dan minimalis serta teman-teman Aruna menikmati kekayaan kuliner yang ada. Namun ternyata, film ini lebih dari itu!
sumber: 21cineplex.com
Dengan durasi lebih kurang 90 menit, film ini memang memanjakan penonton dengan tampilan visual yang sangat top. Kualitas gambar yang disajikan memang gak main-main, terlebih saat harus menggambarkan kuah soto yang masih panas, gurihnya gorengan, serta pedas dan gurihnya makanan yang dikonsumsi di sana. Jika berbicara keleatan makanan, memang tidak hanya bisa ditemukan di restoran ataupun tempat makan yang eksklusif dan berharga tinggi. Keunikan kuliner lokal terkadang justru banyak ditemukan di sudit-sudut kota yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Mungkin kalau diibaratkan media sosial, setiap tayangan makanan dalam film ini sangat "instagramable" dan cukup membuat penonton ikut menelah ludah karena kelezatan makanan yang disajikan dalam film. Bisa dibayangkan berapa orang yang setelah menonton film ini untuk kemudian merencanakan perjalanannya sembari menikmati kuliner lokal yang ada di sana

Film ini didukung oleh aktor dan aktris yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Selain Dian Sastrowardoyo, film ini juga diperankan oleh Nicholas Saputra (Bono), Hannah Al Rashid (Nad), dan Oka Antara (Farish) sebagai tokoh utama. Nah, satu lagi yang dirasa sangat menonjol di film ini adalah tampilan aktor dan aktris yang "apa adanya". Di setiap adegan sangat terlihat bagaimana rambut halus Aruna yang keluar-keluar dan tidak beraturan, masih ada minyak dan keringat Bono saat makan di warung pinggir jalan, dan bagaimana baju Farish dan Nad yang terlihat ada lecek-leceknya. Berbeda dengan film lain yang sangat totalitas dalam mengatur penampilannya. Menurut saya, ini yang justru memberikan nilai lebih dalam film Aruna dan Lidahnya yang menjadikan penonton tidak seperti sedang menonton film bioskop. Terlebih sosok Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra yang mampu dan berhasil melepaskan sosok Cinta dan Rangga yang sudah sangat kental dikenal dalam film-film sebelumnya.

Di tengah perjalanan film, saya baru menyadari bahwa film ini ternyata tidak hanya menyuguhkan tentang bagaimana pengalaman Aruna dan teman-temannya menjelajahi berbagai kuliner Indonesia, tetapi juga menceritakan bagaimana praktik sosial yang berkembang di masyarakat. Adapun yang menjadi highlight dalam film ini adalah tindak korupsi yang dilakukan oleh sejumlah kelompok yang mengambil benefit atas hal itu. Praktik korupsi yang dilakukan adalah dengan adanya pengadaan alat kesehatan atas suatu dugaan virus flu burung yang seharusnya tidak perlu dilakukan karena wabah tersebut sebenarnya tidak benar-benar terjadi. Selain Aruna, hal tersebut juga melibatkan Farish dan atasannya. Dengan tema serius tersebut, Edwin sebagai sutradara film ini juga tidak lupa menyisipkan lelucon-lelucon ringan dan santai. Iklan-iklan pun terlihat sangat halus dan bagus.

Namun, di luar kelezatan yang diberikan, ada beberapa hal yang dirasa kurang pas. Terdapat beberapa bumbu yang hambar walau tidak merusak cita rasa film secara keseluruhan. Salah satunya adalah semua twist dalam film terkesan dipaksakan dalam plot cerita yang sangat sempit. Penonton seolah berhasil menebak kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, menurut saya pesan yang disampaikan tentang lidah Aruna kurang mashook, yaitu apakah lidahnya hambar? Mengapa dan bagaimana? Jawaban yang tidak ditemukan (atau mungkin terlewatkan) dalam film ini.

Ada satu pesan tersurat dalam cerita yang sama dengan hal yang saya miliki, yaitu inti dari film ini adalah mencari resep nasi goreng yang dimiliki oleh Ibunya Aruna. Ia menjelajah ke sejumlah kota selain dengan misi bekerja, yaitu sekaligus dengan misi mencari pengasuhnya yang memiliki resep legendaris masakan nasi goreng Ibu Aruna. Namun ternyata, Ibu Aruna sendiri yang masih memiliki resep tersebut dan dapat memasakkannya sendiri untuk Aruna. Ibu saya pun memiliki resep untuk membuat nasi goreng khas diri beliau, berbeda dengan nasi-nasi goreng kebanyakan yang dijual di tempat-tempat lain. Tapi sampai dengan saat ini, saya belum sempat untuk "mencontek" apa-apa saja yang menjadi bahan-bahannya dan bagaimana cara Ia memasaknya. Dalam waktu dekat nanti, saya akan mencari tahu resep andalan nasi goreng khas Ibu saya, sama seperti Aruna yang tengah mencari tahu resep nasi goreng Ibunya.

Pada dasarnya, Aruna dan Lidahnya merupakan film yang apik untuk ditonton karena bersifat ringan dan mengenyangkan. Jika memungkinkan, sebelum memasuki studio, kita sebagai penonton pun juga harus menyesuaikan perut masing-masing dalam keadaan setengah-lapar agar efek film ini dapat sangat terasa sampai ke lidah kita. Selamat menikmati! (7/10) 

13 September 2018

Pulang

13 September 2018
https://pixabay.com/en/woodland-road-falling-leaf-natural-656969/
Hari itu adalah hari rutinitas yang berjalan seperti biasa. Namun, saat akan meninggalkan kantor, seutas pertanyaan membangunkan pikiran saya yang sedang tertidur. Saat tiba di parkiran motor, tidak sengaja bertemu dengan seorang senior di kantor sembari bersiap-siap menuju kendaraan kami untuk pulang ke kediaman masing-masing. Sudah berusia sekitar 45 tahunan, ia melemparkan lelucon om-om ke pada saya kemarin petang,

X: ... Ngapain pulang, Mas? Toh besok kita balik lagi (ke kantor). Udahlah kenapa gak nginep di sini (kantor) aja...?

For a moment I imagined that nobody knows whether we could make it tomorrow to come to the office. Nobody knows we could arrive at our lovely home safely and happily. Nobody knows we could meet again with our family waiting for our arrival. Nobody knows whether that day is the last day we come to the office, the place where we would dedicate most of our life. Nobody knows that the goodbye we make that day to our colleagues is the goodbye for ever.

Selain itu, terlintas juga di pikiran yang sederhana ini: mengapa kita dilahirkan dan dihidupkan di dunia, padahal sebenarnya kita berasal dari-Nya dan akan pulang (kembali) lagi ke pada-Nya suatu saat nanti?

Semoga kita selalu diberikan rahmat untuk dapat diberikan petunjuk dan kemampuan pemahaman atas semua hal ini. Amin.

05 July 2017

Kebijakan Defisit Anggaran dalam Stigma

05 July 2017
Anggaran merupakan suatu alat yang digunakan oleh organisasi dalam melaksanakan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam suatu periode tertentu. Tidak terkecuali oleh negara yang setiap tahun menetapkan anggaran tahunan sebagai dasar pelaksanaan untuk mencapai target yang dimiliki. Anggaran negara merupakan perpaduan antara rencana pendapatan dan belanja, yang juga disertai dengan rencana pembiayaan yang akan direalisasikan. Pembiayaan merupakan suatu instrumen yang dapat menutup defisit anggaran atau kekurangan pendapatan negara untuk dapat tetap melaksanakan rencana kegiatan yang tertuang dalam belanja negara. Rencana kegiatan tersebut harus tetap dilaksanakan oleh negara demi mencapai rencana jangka menengah dan rencana jangka panjang Pemerintah yang telah disepakati bersama dengan dewan legislatif sebelumnya. 


Namun, akan timbul banyak sekali perdebatan yang akan terjadi dalam menentukan apakah Pemerintah harus menerapkan kebijakan anggaran defisit, bukan menerapkan kebijakan anggaran berimbang atau kebijakan anggaran surplus. Karena sebenarnya, anggaran defisit akan berdampak pada jumlah utang yang ada pada neraca Pemerintah menjadi lebih besar dan negara harus menanggung beban tersebut di masa-masa yang akan datang. Selain itu, anggaran defisit juga akan berimplikasi pada koefisien-koefisien perekonomian lainnya, salah satunya adalah tingkat inflasi.

Telah banyak penelitian yang dilakukan tentang hubungan antara defisit anggaran dengan tingkat inflasi yang terjadi pada sejumlah negara dalam suatu periode tertentu. Dalam jurnal Kivilcim Metin, anggaran defisit akan berdampak pada tingkat inflasi secara langsung. Sementara itu, pertumbuhan pendapatan pun juga akan mempengaruhi tingkat inflasi secara tidak langsung dan terjadi dalam jangka panjang. Inflasi terjadi melalui kenaikan harga-harga barang yang diperjualbelikan dalam pasar oleh penjual dan pembeli yang kemudian akan menurunkan daya beli masyarakat. 

Defisit anggaran sesungguhnya bukanlah sesuatu yang tabu untuk diterapkan dalam kebijakan penganggaran suatu negara. Tentu kebijakan tersebut juga harus didukung dengan aksi Pemerintah dalam mengeluarkan belanja yang dibebankan melalui pembiayaan. Belanja Pemerintah yang bersifat produktif dan digunakan untuk pembangunan akan menghasilkan multiplier effect dan akan memberikan hasil yang berkali-kali lebih banyak. Pembangunan jalan merupakan salah satu belanja Pemerintah yang bersifat produktif karena dapat digunakan oleh masyarakat untuk meningkatkan tingkat perekonomian wilayah tersebut. Pada akhirnya, dengan kualitas masyarakat yang terus berkembang yang dimiliki oleh negara, seperti Indonesia, sesungguhnya bukan tidak mungkin pada suatu saat nanti, Indonesia dapat menunaikan seluruh kewajibannya dan bahkan menjadi negara kreditur kepada negara-negara berkembang lainnya.—

Referensi:
Metin, Kivilcim. 1998. The Relationship Between Inflation and the Budget Deficit in Turkey. Turki: Universitas Bilkent.
Sumber gambar: internet
 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;