02 May 2012

Titik Balik

02 May 2012
Bukan hanya sebagai tempat suci. Bukan hanya tempat untuk beribadah. Bukan hanya tempat untuk mendekatkan diri kepada Sang Pemilik. Bukan hanya tempat untuk mencurahkan isi hati. Adalah tempat yang tidak cukup dilukiskan dengan kata-kata manusia.

Setiap tiang yang berdiri dengan kokohnya sepanjang mata memandang. Menyimpan memori-memori yang pernah terjadi di tempat itu. Kejadian-kejadian manusia yang pernah singgah di tempat ini. Baik duka maupun suka. Baik tua maupun muda. Baik pria maupun wanita.

Tidak terkecuali memori sore itu. Datang dari sebuah ide manusia yang –katakanlah– berbeda. Membawa mereka ke tempat ini. Tidak lama. Tidak juga singkat. Empat jam. Waktu yang cukup untuk membuat dampak. Terhadap satu manusia.

Bukan faktor waktu. Bukan pula faktor tempat. Tapi faktor manusia. Manusia yang memiliki berbagai macam sisi. Seperti layaknya sebuah kotak. Di sebuah halaman yang luas. Tak hanya berlima. Tetapi juga ditemani oleh langit sore yang gelap. Serta siap untuk menurunkan petir dan hujan. Untuk mengajak bermain bersama. Bangunan tinggi lainnya pun berdiri di sekeliling. Seolah melihat setiap detik tingkah laku perbuatan manusia.

Dengan lisannya. Empat manusia berinteraksi. Satu lainnya, hanya mengamati dari dekat. Masih bermain-main dengan langit gelap nya itu. Tidak secara tiba-tiba. Suatu lisan yang dikeluarkan dari satu manusia membuat perhatiannya lenyap dari langit gelap. Semua fokus yang dimiliki tertuju pada satu manusia yang baru mengeluarkan lisannya itu. Mungkin sudah terbakar hebat karena fokusnya. Bukan lisan biasa. Namun kalimat yang tertulis di kitab yang suci mengalun dengan indahnya keluar secara verbal. Keluar dari hati dan pikirannya. Masuk melalui telinga. Mengalir bersama darah. Masuk ke hati yang paling dalam. Tidak lama. Lima belas menit. Mungkin. Tapi masih terasa sampai detik ini. Suatu lisan yang mengetuk hati manusia. Hati manusia yang tertutup debu. Hitam. Pekat. Gelap. Tapi setidaknya. Pada saat itu. Menjadi lebih terang dan bersih. Walaupun sedikit. Tapi cukup menerangi untuk dirinya sendiri. Pandangan manusia ini terhadap manusia "verbal" pun berubah. Seratus delapan puluh derajat. Seketika. Menjadi penuh hormat. Namun tetap dan makin akrab selayaknya sahabat lama.

Sisa-sisa waktu menghampiri. Senja telah datang. Tak ingin berakhir momen yang sangat berharga bagi satu manusia itu. Namun setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Layaknya kematian yang selalu membayangi setiap kelahiran.

Seusai menghadap barat. Suasana malam di halaman tadi menggoda untuk dihampiri. Melambai-lambai. Memanggil-manggil. Untuk menghabiskan waktu lebih lama. Benar saja. Lima manusia itu kembali bersantai sejenak. Dengan mengabadikan dirinya secara digital. Walaupun tiang-tiang sudah melakukannya. Dengan cara lain.

Puas bermain-main. Kembali kami harus berpisah. Berpisah dari suatu momen. Berpisah dari suatu tempat yang telah menjadi titik balik bagi satu manusia. Tidak berubah. Hanya yang tadi redup menjadi lebih terang. Menuju jalan yang lebih banyak cahaya. Walaupun momen sudah terlewat. Tapi lampu-lampu tersebut harus tetap dijaga. Agar dapat tetap menyala dengan terang.

Ucapan terima kasih pun hanya disampaikan melalui hati. Entah. Banyak orang yang menyukai pujian. Namun tidak sedikit pula yang tidak menyukainya. Mungkin suatu saat nanti. Ucapan ini akan sampai di telinga. Entah kapan. Entah bagaimana caranya.

Titik balik. Terima kasih.

0 word(s) after:

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;