01 June 2013

Gunung Bromo nih Bro

01 June 2013

http://www.flickr.com/photos/yudantonugroho/
Siapa yang gak tau keindahan Gunung Bromo? Gunung berapi yang masih aktif di Jawa Timur ini, selalu dijadikan pilihan utama tempat tujuan bagi para wisatawan lokal, juga wisatawan asing. Pemandangannya cantik. Udaranya sejuk. Pengunjung kerap "berburu" untuk melihat sunrise dan pemandangan lainnya, termasuk puncak Gunung Semeru, gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, yang terlihat dari kawasan Gunung Bromo ini. Karena hal itu, bulan April kemarin, gue, Markus, dan Anggi, fixed berangkat menuju Jawa Timur untuk berburu matahari terbit di Gunung Bromo. Whassssssa.

Dari sekian banyak jalan menuju Gunung Bromo, kami putuskan buat lewat jalur Surabaya-Probolinggo yang memungkinkan buat kami tempuh. Pertama, kami ambil flight pagi menuju Surabaya. Sempet suudzon awalnya, gara-gara naik penerbangan yang "biasanya" delay. Tapi pas itu enggak. Teng, ontime bener. Sesampainya di Bandara Internasional Djuanda, Surabaya, kita langsung naik bus damri menuju Terminal Bus Bungurasih atau dikenal juga Terminal Bus Purbaya. Abis itu, kami lanjut naik bus patas antarkota yang menuju Kota Jember yang melewati Kota Probolinggo. Panjaang banget perjalanannya. Plus laper. Jadi begitu sampe Probolinggo, kami makan siang sekaligus istirahat dulu sebelum lanjut ke "check-point" selanjutnya. Kecamatan Ngadisari.

Kecamatan Ngadisari, letaknya di kaki Gunung Bromo dan berdekatan dengan pintu masuk menuju Kawasan Gunung Bromo. Untuk sampai ke tempat ini, ada 2 pilihan, pakai mobil Byson, atau naik ojek. Untuk mobil Byson, biayanya berkisar antara 25,000--30,000 Rupiah dengan waktu perjalanan sekitar 2 jam. Untuk naik ojek, banyak banget yang nawarin sejak kami sampai di Terminal Probolinggo, dengan biaya sekitar > 50,000 Rupiah. Kami memutuskan untuk menggunakan Byson, walaupun dengan konsekuensi: harus menunggu mobil itu penuh dengan 13 penumpang, baru mobil tersebut berangkat menuju Ngadisari. Untungnya sebelum kami dateng, udah ada 5 orang mahasiswa yang nunggu lebih dahulu. Jadi tinggal nunggu sekitar 4 hingga 5 orang lagi.
Jam 4 sore kami sampai di Kecamatan Ngadisari, dan segera mencari penginapan untuk kami tidur di malam itu. Gak sulit buat dapet penginapan langsung, yang tanpa reservasi dulu sebelumnya. Karena disana banyak tempat penginapan yang berupa villa atau perumahan warga. Tinggal pilih. Kami sendiri langsung dapet yang sesuai ekspektasi kami sebelumnya, dengan double-bed dan kamar mandi dalam. Begitu dapet penginapan, kami langsung keliling buat menikmati udara kawasan Gunung Bromo di sore hari. Suhu disana emang dingin banget. Kalo kelupaan membawa baju dan peralatan hangat, banyak kok penduduk sekitar yang menjajakan barang dagangan mereka kayak syal, topi, masker, dan banyak lagi yang bisa ngurangin dinginnya udara di Bromo sana.

Sore itu, kami juga udah mencari mobil jeep untuk perjalanan kami melihat sunrise di pananjakan besok pagi. Untuk mobil jeep ini, bisa dilakukan sharing dengan pengunjung lain, supaya biaya sewa bisa lebih ditekan. Tapi, kami memilih buat sewa satu mobil jeep untuk kami sendiri dengan pertimbangan supaya gak saling menunggu pas di tempat tujuan kami nanti. Jadi, dengan 1 mobil jeep, kita bisa pergi ke 4 tempat tujuan yaitu Pananjakan Satu, Kawah Gunung Bromo, Bukit Teletubbies, dan Pasir Berbisik.

Malamnya, kami berencana jalan-jalan di sekitar penginapan kami untuk cari makan. Ternyata, di sekitar lingkungan ini, tidak seramai yang kami kira sebelumnya. Mungkin para pengunjung Gunung Bromo yang lain ingin lebih mempersiapkan diri mereka buat melihat sunrise pagi besok dengan cara: tidur lebih awal. Ada banyak pilihan warung makan atau warung kopi yang buka pada malam yang dingin itu. Sepiring nasi goreng dan segelas jahe panas pas banget buat dinikmati malam itu.

Pagi jam 03.00 waktu setempat. Kami bersiap berangkat buat naik penanjakan. Buat sampai di pananjakan, perlu waktu sekitar satu hingga satu-setengah jam. Di pananjakan, suhu disana lebih dingin lagi. Kaki akan mati rasa kalo hanya memakai sandal. Disana juga banyak yang menyewakan atau menjual jaket tebal, kaus kaki, dan syal. Saat itu, juga masih terlalu pagi buat melihat sunrise. Jadi, kami mampir di warung kopi terlebih dahulu untuk menyantap pisang goreng panas dan kopi panas. Sederhana, tapi nikmat bener.

Aand here it comes. Kawasan Gunung Bromo dan sekitarnya.









Kalo udah disana, coba deh, diam dan tenangkan pikiran. Tutup mata dan nikmatin udara dan matahari pagi yang hangat bercampur udara dinginnya. Nyaman banget. Dan benar kata orang-orang yang udah pernah ke tempat ini sebelumnya. Keindahan Gunung Bromo ngebuat kita untuk pengen dateng ke tempat ini lagi.

Semoga suatu saat nanti, bisa kesini lagi, ke tempat ini lagi.


0 word(s) after:

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;