29 June 2014

Movie Review: Transformers: Age of Extinction

29 June 2014
Transformers menjadi salah satu film yang ditunggu-tunggu di tahun 2014 ini. Rencananya pengen nonton pas hari pertama premier, yaitu tanggal 25 Juni 2014, biar bener-bener fresh from the oven. Toh di Amerika aja, film ini belum tayang di bioskop-bioskop kesayangan. Tapi ternyata eh ternyata, gak bisa. Karena pas hari Rabu malem itu, pas banget Raisa tampil di Pekan Raya Jakarta #sikap. Alhasil, film ini baru sempet kami tonton pas hari Kamis keesokan harinya. Itu pun juga hasil dadakan dan beli tiket pas jam makan siang biar dapet jam yang persis after-office.


[Spoiler Alert]
Read more>>
Transformers: Age of Extinction adalah film keempat Transformers yang sebelumnya sudah tayang berturut-turut pada tahun 2007, 2009, dan 2011. Yang menjadi highlight utama dalam film ini adalah para pemeran utama yang terbarukan, hanya ada beberapa robot (autobots.red) yang tetap dipertahankan, seperti Optimus Prime dan Bumble Bee. Walaupun, Optimus akan "ganti baju" dengan mempertahankan warna dominan merah dan biru. Dalam film ini terdapat pemeran utama baru seperti Mark Wahlberg, Stanley Tucci, Kelsey Grammer, Nicola Peltz, dan masih banyak lagi. Selain itu, Optimus dan Bee juga didatangkan beberapa teman autobots baru, yang baru muncul di film ini. 

Buat gue, bad news for Shia Labeouf (pemeran utama dalam 3 film terakhir Transformers), karena Mark Wahlberg dapat membawakan peran utama dalam film ini dengan sangat apik. Seolah, penonton film mendapatkan sesuatu yang baru dan yang lebih baik daripada apa yang mereka dapatkan dalam 3 film terakhir. Disini Mark Wahlberg berperan sebagai mekanik yang suka mengumpulkan barang-barang bekas yang kemudian akan dijadikan barang yang lebih berguna untuk memenuhi kehidupannya dan kebutuhan sekolah anak perempuannya, Nicola Peltz. Suatu saat, dia yang menemukan Optimus yang sedang bersembunyi di sebuah bioskop tua yang sudah tidak terawat lagi. Yang membuat ganjal adalah, disini tidak diceritakan secara pasti mengapa Bee meninggalkan Shia, yang sudah bersama-sama selama 3 film terakhir. Sebuah pertanyaan besar.

Film ini juga akan dibuat sebuah film trilogi sekaligus melanjutkan dari trilogi sebelumnya. Dan benar, di akhir film ini akan meninggalkan musuh baru bagi para autobots, yaitu Galvatron. Apakah di film ketiga akan di buat part 1 dan part 2, entahlah.


Bagi mereka yang menyukai film-film Michael Bay sebelumnya, sudah tentu akan menyukai film yang ini pula. Karena, seperti yang kita tahu, ciri khas Michael Bay adalah ledakan yang ada dimana-mana, orang-orang yang berteriak dan berlarian kesana kemari, kemudian ledakan lagi, fighting scene yang super-dramatikal, kemudian ledakan lagi, dan ulang-berulang. Bener-bener di luar logika. Film ini akan lebih dari itu. Namun sayang, alur cerita dibuat secara lambat untuk film yang berdurasi 2 jam 40 menit. Banyak sekali adegan slowmo action untuk scene-scene tertentu dan sengaja dibuat lebih panjang. Sehingga, menjadikan penonton "hilang" arah cerita sebenarnya sudah sampai dimana. Tetapi, dalam film ini tetap disisipkan humor ringan yang dapat membuat penonton tertawa ringan hingga terbahak-bahak. Oya, sekedar intermezzo, orang yang duduk sebelah kami termasuk orang yang tertawa terbahak-bahak. Kami sambil saling menatap heran kok bisa dia tertawa terbahak-bahak begitu. Ada lagi, perempuan yang duduk di belakang kami selalu berteriak histeris ketika ada adegan jatuh dari ketinggian. Sekilas berasa lagi naik tornado di dufan.

Terakhir, film ini akan lebih menarik untuk ditonton versi IMAX atau 3D atau malah 4D. Kami yang hanya menonton versi 2 dimensi saja, sudah dapat membayangkan efek-efek 3 atau 4 dimensi yang akan berasa. Ditambah lagi suara-suara yang menggelegar, akan menambah bumbu-bumbu keseruan fim ini. Tadinya kami mau nonton yang versi 3D atau 4D, tapi enggak jadi -_-. (6.5/10)

0 word(s) after:

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;