14 July 2014

Surga di Khatulistiwa: Pulau Maratua

14 July 2014
Kata seorang teman, adalah sebuah ironi apabila kita lahir dan hidup di sebuah negara kepulauan, namun kita sama sekali belum pernah berpergian dari pulau-ke-pulau menggunakan moda kapal laut membelah perairan yang membentang luas dan memisahkan pulau-pulau tersebut. Oktober kemarin, statement itu gue pecahkan dengan melakukan perjalanan laut dari pulau satu ke pulau yang lain. Pulau Maratua. Pulau ini merupakan pulau yang terpisah dari pulau besar Kalimantan. Pulau Maratua termasuk dari Kabupaten Berau, Propinsi Kalimantan Timur. Untuk mencapai pulau ini, kami diharuskan untuk menempuh perjalanan laut selama lebih-kurang tiga jam dari dermaga Kota Tarakan. Ini adalah pengalaman pertama gue untuk menaiki kapal laut. Pelajaran utama yang bisa gue ambil adalah: lebih baik duduk di belakang saat perjalanan panjang menggunakan kapal laut, atau gunakan bantalan empuk untuk diduduki. Guncangannya dahsyat bingit.

Tapi, segala guncangan mahadahsyat itu terbayarkan ketika sampai di dermaga di Pulau Maratua. Kami langsung disuguhi pemandangan indah sejauh mata memandang, laut biru yang jernih dengan tiga jenis warna, langit biru cerah dengan angin yang secara bergiliran menyentuh kulit kami, pasir putih halus dengan segala bebatuan kecil, dan bukit-bukit yang mengelilingi pulau itu. Yang buat speechless adalah waktu laut tiga warna ketemu sama matahari terik. Superrrr.

All you can see: Lautan dengan tiga warna
Turquoise Water
Floating boat

Read more>>
Yang menarik lagi di pulau ini adalah tempat kami menginap yang dinamakan: Water Villa. Penginapan berada  di atas laut dangkal yang sangat jernih. Sesekali ada ikan-ikan kecil dan kura-kura yang sedang berenang di bawahnya. Di setiap kamar juga dilengkapi teras yang langsung menghadap laut yang tenang sehingga dapat menikmati pemandangan sepuasnya. Kami dibebaskan untuk berenang sepuasnya di sekitar penginapan. Yang disayangkan adalah air shower di kamar mandi yang langsung jatuh di bawah penginapan dan bercampur dengan air laut. Penggunaan sabun harus diminimalisasi ketika menginap di tempat ini agar tidak mencemari lingkungan sekitar.
Pemandangan sea-view dari Water Villa
Lapangan bola sekitar perumahan penduduk
Di tempat ini juga akan dapat melihat sunrise dan sunset yang sangat indah. Kebetulan pada saat kami kesana, cuaca pada saat itu sangat cerah sehingga kami dapat melihat matahari yang benar-benar tenggelam di balik lautan sebelah barat dan muncul kembali dari balik lautan sebelah timur. Namun perlu diperhatikan pula, waktu terbaik untuk mengunjungi pulau Maratua adalah sekitar bulan Maret hingga Mei atau bulan Agustus hingga Oktober. Untuk menuju spot sunrise, kita harus berjalan dari penginapan menuju sisi lain dari pulau ini. Jam 4 pagi. Bayangkan, jam 4 pagi untuk melihat sunrise di tanah Maratua. Persiapkan pakaian tebal dan senter juga untuk perjalanan pagi buta itu, ya. Selama perjalanan kita akan melewati kompleks perumahan warga yang sepi dan bersih. Kantor kepala desa, sekolah, balai desa, semuanya kami lewati.

Sunrise. Still waiting
After sunrise
Almamater. Cuma beda tempatnya aja
Gak akan pernah ada kata bosan ketika berada di pulau ini. Gue pun ingin kembali kesini lagi suatu saat nanti. Merasakan kembali kehangatan Maratua di Kalimantan yang gak akan pernah padam. Kemarin sih, FYI, di rombongan gue ada yang sekalian honeymoon di Maratua. Hem.

3 word(s) after:

Aulia Muqarrabin said...

sama siapa kesininya, nto?

Yudanto D. Nugroho said...

Bareng keluarga cun, ber-empat. Total satu rombongan ada sekitar 20an orang

Happy Wijaya said...

*elap iler*

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;