05 November 2014

Tau-Tau Krakatau

05 November 2014
Kegagalan menonton film horor di Plaza Atrium sore itu, membawa kami ke Puncak Gunung Anak Krakatau. Meledaknya film Annabelle yang baru saja premiere di Jakarta, membuat Vida, Anom, Fitra, dan saya kehabisan tiket dan hanya berkumpul bincang-bincang sambil makan malam di Plaza Atrium. Dari A sampai Z, sampailah kami di pembicaraan: Kapan kita kemana?. Dari sejumlah tempat yang terusulkan malam itu, terpilihlah Anak Krakatau menjadi tujuan kami menghabiskan akhir pekan. Sungguh, rencana yang sekelibat "jadi" pada saat itu juga. Segera kami cari open trip yang menyediakan jasa perjalanan kesana.

Kami bersembilan, berangkat Jumat malam selepas pulang kantor. Tujuan pertama kami adalah Terminal Pulo Gadung yang ditempuh selama 1 jam perjalanan dari Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Kemudian kami dapat melanjutkan dengan bus Laju Prima atau SM Prima menuju Pelabuhan Merak. Perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh selama 3 jam, harus ngaret menjadi 3,5 jam dikarenakan supir bus yang memilih untuk mengendarai busnya dengan sangat pelan dan juga berusaha untuk mengambil semua penumpang yang ada di jalan. Jam sudah menunjukkan pukul 11.20 malam, padahal kami sudah harus berkumpul pukul 11 malam dan berangkat ke Pelabuhan Bakauheni pada tengah malam.

Sesampainya disana, bersyukur bahwa masih ada kelompok yang masih lebih telat daripada kami. Tapi, kami tetap berangkat tepat waktu sesuai rencana. Jujur, ini adalah pengalaman pertama saya untuk menaiki kapal laut yang akan menyebrangi Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Selat Sunda yang selama ini hanya dapat saya lihat di peta, malam itu saya lewati selat itu dengan kapan yang kami naiki. Kapal kami pada saat itu adalah kapal yang di luar dugaan saya. Sempat terpikir bahwa kapal ini adalah seperti kereta yang digambarkan oleh film Snowpiercer versi kapal laut. Karena penuh sesak, baik di deretan kursi ekonomi maupun di kursi eksekutif. Setelah berusaha masuk ke dalam kapal, kami pun mendapat tempat yang sangat istimewa, yaitu di atas kapal. Ini pun dengan cara menaiki tangga 90 derajat yang terbuat dari besi ringan. Namun, tidur beralaskan plastik kresek seadanya dan beratapkan langit sehamparan bintang di atas adalah pengalaman yang luar biasa. Saya pun juga dapat melihat bintang yang jatuh yang dapat dilihat sekitar 2-3 detik. Persis seperti pembuka film Meteor Garden. Buat apa tidur di hotel bintang lima, kalau bisa tidur dengan ribuan bintang di atas kita. Walaupun kami pun juga harus memodalkan diri dengan jaket tebal untuk meminimalisasi angin kencang yang berhembus di atas kapal. Kami pun juga tidur melingkar, dengan menaruh barang-barang di tengah, untuk menjaga agar tidak berceceran kemana-mana.

photo by Anom
photo by Trio
Read more>>
Akhirnya, selamat datang di Lampung! Tanah Lampung adalah tanah pertama yang saya injakkan di Pulau Sumatera. Pukul 3 pagi, segera kami menuju ke Pelabuhan Canti dengan menggunakan angkutan kota. Perlu diperhatikan, angkot disini adalah angkot yang jarang pakai rem. Melesat kesana-kesini like there's no tomorrow. Lengkap dengan speaker aktif di bangku penumpang. Musik pun harus tetap menyala, gak kenal waktu tidur. Lagu dangdut, disko, house remix, siap menyambut kami semua. Alhamdulillah, kami selamat sampai Canti. Sebelum menuju tempat penginapan, kami mencicipi untuk menikmati keindahan pulau Sebuku dengan berenang dan snorkling. Ombak yang tenang, tidak membuat mabuk dan memudahkan untuk melakukan dig dive, yaitu menyelam  sedikit ke dalam laut. Jangan khawatir jika tidak bisa berenang, snorkling dengan menggunakan pelampung pun juga mudah untuk dilakukan. Di Pulau Sebuku Kecil, kami juga dapat melihat gradiasi warna air laut yang cantik. Biru turquoise yang bercampur dengan birunya langit pada saat itu. Cakeup.




Setelah dari Sebuku Kecil, kami menuju ke penginapan di Pulau Sebesi. Adalah mainstream, kalau kami harus menginap di mess di dekat garis pantai. Kami tinggal di salah satu rumah penduduk yang mengharuskan kami berjalan ke desa lebih dalam lagi melalui jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon kelapa, ilalang, kambing, dan kerbau. Lebih lagi, rumah warga tersebut hanya tersedia listrik pada malam hari. Tidak sampai 12 jam, tetapi sekitar pukul 6 hingga tengah malam. Itu pun juga harus menggunakan genset yang bertenaga solar. Sungguh pukulan telak bagi saya yang seringkali menyia-nyiakan listrik menyala tanpa maksud di rumah. Keluarga disana juga welcome banget dengan kedatangan kami. Sang Bapak adalah seorang nelayan dan isterinya adalah wirausaha dengan membuka toko kecil di rumahnya sambil menjaga anaknya. Sang Ibu suka membuatkan kami gorengan ketika kami sampai di rumahnya. Sale pisang goreng yang bikin nagih diantara gorengan-gorengan yang lain. Disana kami pun juga menemukan bunga yang berbentuk unik. Entah bunga apa, tapi kami beri nama bunga ini adalah bunga bulu babi.




Tidak ada kata "istirahat" kalau kita lagi berakhir pekan di luar rumah. Berberes sebentar, langsung kami kembali melakukan perjalanan laut menuju Pulau Umang-Umang, berenang, dan snorkling disana. Ikannya lebih banyak dan beragam kali ini. Namun, ombaknya pun lebih bergelombang sehingga kami harus dapat membiasakan diri untuk menghindari mabuk laut. Selepas bersnorkling, kami menjelajah Pulau Umang-Umang. Umang-umang itu sendiri adalah sejenis binatang yang memiliki pelindung keras, seperti keong dan kepiting. Namun, umang-umang memiliki bentuk yang lebih kecil dan lebih menghabiskan banyak waktu di pinggir laut atau pantai. Banyak pengunjung lainnya yang juga menyempatkan waktu untuk menjelajah pulau tersebut. Di penghujung hari, kami pun ditemani pemandangan matahari tenggelam yang dapat dinikmati di atas kapal yang bergerak menuju penginapan.




Tibalah kami di klimaks perjalanan akhir pekan ini. Pukul 3 pagi, kami harus sudah berangkat dari tempat penginapan kami untuk bergegas menuju Puncak Gunung Anak Krakatau. Disana, mata kami akan dimanjakan dengan pemandangan yang indaaaaaaah banget. Gak lebay. Daun-daun pepohonan tampak berguguran dan berwarna kuning dengan tanah hitam yang juga bercampur dengan pasir. Pokoknya betah banget disana. Untuk menuju puncak, kami harus mendaki bukit berpasir yang curam. Pendakian menjadi sulit dan membutuhkan kerja keras karena pijakan yang lembek berupa pasir kering. Persiapkan juga penutup mulut dan hidung untuk menghindari pasir yang berterbangan di udara. Kami pun harus meminimalisasi debu yang bertebaran dikarenakan pergerakan kaki saat menaiki atau menuruni bukit. Perjuangan menuju puncak adalah perjuangan yang gak mudah. Apalagi buat Ayu. Untung aja ada pangeran penyemangat Ayu untuk berhasil menuju puncak. Setelah puas menikmati pemandangan dari atas puncak, kami pun menyempatkan diri untuk snorkling lagi di Lagoon Cabe, sebagai spot terakhir sebelum kami meninggalkan Lampung. Karang disini unik. Sesekali kami dapat melihat ikan-ikan kecil yang bersembunyi di balik karang. 






Akhirnya kami tiba di ujung perjalanan kami. Dengan membawa dua kotak pisang coklat dari Pelabuhan Canti, pukul 5 sore kami menuju Pelabuhan Bakauheni untuk menuju Jakarta. Rezeki anak sholeh, kami pun dapat kapal yang jauh lebih baik daripada kapal kami sebelumnya. Kursi-kursi tersusun dengan rapi berdasarkan deck-deck tertentu. Ada sayap kanan, dan sayap kiri. Persis seperti bayangan kapal yang ada di pikiran saya. Sekalian, kami duduk di restoran kapal yang tempatnya berada di depan kapal. Nyaman banget.

Sesampainya di rumah, adalah Senin pukul 2 pagi. Dan akan bersiap pergi ke kantor pukul 5 nanti. Pingin segera menulis tentang perjalanan ini, tapi apa daya baru bisa di sekarang-sekarang ini. Pengalaman tentang perjalanan ke puncak Anak Gunung Krakatau juga sudah ditulis dengan apik di blog Aldy, temen saya yang juga melakukan trip ke tujuan yang sama tapi di kesempatan yang berbeda. Terima kasih untuk akhir pekan ini, rekan-rekan. Banyak banget pengalaman baru di perjalanan 48 jam terakhir. Salam Mas Pras!


4 word(s) after:

Aldy Wirmadi said...

wah mantep bre, apik postingannya+fotonya lebih banyak dari postingan gue :D

Yudanto D. Nugroho said...

hahaha thanks pak. postingan di eatrips informatif dy, ngebantu banget buat persiapan sebelum kesana (y)

Aulia Muqarrabin said...

ini pake apa? udah gak pake nikon lagi yak? hmm hmm....

Yudanto D. Nugroho said...

masih setia pake yang dulu kok cun. *lanjut liat2 katalog*

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;