01 August 2015

Telinga yang Lebih Banyak Mendengar

01 August 2015
Seusai hari raya Idul Fitri kemarin, gue dan teman-teman mengunjungi teman dekat yang sedang merayakan hari pernikahannya di kota Brebes. Berhubung dilaksanakan pada hari Sabtu pagi, maka kami berangkat dari Jakarta pada malam hari, dan sekitar subuh sudah sampai tujuan dengan melalui jalan tol yang belum lama ini diresmikan, Cikapali, yang merupakan kependekan kata dari kota Cikampek--Palimanan.

Sesampainya disana, kami sempat beristirahat di tempat salah satu penduduk disana. Kediaman Mbah Muk adalah yang menjadi tempat istirahat kami sesampainya disana. Tak lama kami sampai, kami beramai-ramai mendatangi langgar untuk menunaikan ibadah shalat Subuh. Sesaat berada di tempat wudhu, gue mengira bahwa gue mengantuk sehingga merasakan goyangan dan hampir terjatuh. Tak disangka, ternyata baru saja terjadi gempa yang konon memang sering terjadi di tempat ini. Seusai dzikir shalat Subuh pun, gue dan teman gue pun kembali merasakan goyangan yang gue kira adalah gue yang setengah tertidur. Di sana pun, kami jumpai Mbah Muk yang sedang melantunkan ayat-ayat Al-Quran di pojok ruangan langgar.

Walaupun pamali, kami pun tidur setelah kembali di tempat Mbah Muk. Sepertinya beliau masih di langgar dan belum kembali ke rumah. Kami pun tertidur seketika bersentuhan dengan bantal, kasur, tikar, dan sofa. Rasa lelah tidak dapat membohongi kami yang melakukan perjalanan satu malam. Namun, tak lama gue bisa tertidur saat itu. Gue pun terbangun disaat teman-teman lain masih lelap tertidur. Hanya ada Mbah Muk yang sedang membersihkan rumahnya yang sederhana itu. 

Read more >>
Sebentar gue menghampiri Mbah Muk dan mulai membuka percakapan, membicarakan tentang banyak hal. Beliau senang menceritakan segala pengalaman yang diperolehnya. Dengan sangat antusias, beliau menceritakan tentang anak, cucu, dan keluarganya. Tidak sulit bagi gue untuk mendengar setiap cerita yang disampaikan oleh beliau. Walaupun ada satu--dua kata yang mungkin tidak jelas terdengar, namun masih dapat dipahami apa maksud beliau.

Beliau memiliki 4 orang anak yang seluruhnya telah menikah dan telah dikaruniai anak masing-masing. Mereka belum lama ini berkumpul untuk merayakan hari raya Idul Fitri. Dapat gue lihat dari air mukanya, betapa senangnya beliau saat itu karena seluruh keluarganya berkumpul di rumahnya. Karena, beliau juga bercerita bahwa beliau kerap merasakan sepi di rumahnya setiap harinya. Karena itu, beliau memilih untuk lebih sering beribadah di langgar dekat rumahnya. Karena di sana beliau dapat beribadah dan berinteraksi dengan tetangga-tetangga sekitar. Walaupun sudah tidak muda lagi, namun semangat beliau untuk senantiasa berjalan beribadah menuju langgar patut untuk dijadikan contoh. Beliau bersyukur bahwa di usianya sekarang, beliau masih dikaruniai kesehatan dan dijauhi dari segala penyakit.

Pengalaman untuk mendapat kesempatan mendengarkan cerita dari seorang nenek adalah pengalaman yang berharga saat itu. Tidak salah untuk menyempatkan waktu yang kita miliki untuk dapat mendengar satu--dua cerita dari keluarga, teman, rekan kerja, atau orang yang selalu ada di sekitar kita. Karena kita tidak dapat melihat sesuatu langsung dari sudut mata pandangan mereka. Karena senang untuk didengar sudah merupakan sifat dasar manusia. Karena mendengar betapa riuhnya kesunyian pun, terkadang dapat menyenangkan setiap individu yang mendengarnya. Mungkin ini adalah alasan mengapa kita memiliki sepasang telinga yang harus mendengar lebih banyak.

Semoga sehat selalu, Mbah Muk.

0 word(s) after:

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;