08 November 2015

Short Escape: Bandung

08 November 2015
Menginjak usia dua-puluh-an memang sudah sewajarnya menerima banyak undangan pernikahan dalam lingkaran pertemanan di sekitar kami. Suatu ketika, mendapat undangan pernikahan di kota Bandung merupakan nilai tambah sendiri. Sembari ikut merayakan bersama dalam hari berbahagia seorang teman, sekaligus dapat melepaskan penat dari padatnya ibukota.

Kota Bandung tidaklah jauh dari Kota Jakarta. Maka dari itu, kami berencana untuk mencari penyewaan mobil tanpa driver untuk kami berkendara kesana. Ageng, teman prajab, yang mengurus segala keperluan untuk sewa mobil di daerah Rawamangun. Ketika dimintakan pendapat untuk memilih antara mobil dengan kemudi manual atau otomatis, spontan aja gue menjawab kemudi otomatis. Karena jujur, sudah lamaa banget gak bawa mobil dengan kemudi manual. Mungkin sudah gak inget lagi bagaimana rasanya menginjak kopling yang agak-agak bikin pegel itu. Namun, ketika berbicara tentang kendaraan roda dua, tentu gue akan lebih memilih kendaraan dengan kemudi manual. Lebih bisa gas pol. Padahal pada intinya sama aja, toh. Dan dengan mengingat yang akan mengemudi ke Bandung adalah gue dan Ageng, dipilihlah mobil dengan kemudi otomatis. Untunglah kami berdua sama-sama bisa mengemudi otomatis. Kalau tidak, yaa bisa-bisa salah satu dari kami harus mengemudi PP sendirian.

Berangkat dari Jakarta pukul 06.00 teng, gak kurang gak lebih, dengan Ageng yang pegang kemudi terlebih dahulu. Karena jarak rumah gue dan meeting-point cukup jauh, gue menghabiskan malam di daerah sekitar sana sebelumnya. Toh, kemarin juga baru aja kelar dari Purwakarta buat ikutan skywalker  (We'll talk about this later). Di sana, kami bertemu dengan Tami dan Oci yang sama-sama akan berangkat ke Bandung. Cus-lah kita berempat menuju Kota Kembang untuk menghadiri pernikahan teman kuliah kami, Dessy.
Perjalanan ditempuh dengan lancar sekitar 2 hingga 3 jam. Mungkin karena hari masih pagi dan matahari belum sepenuhnya naik sepenggalan. Sebenarnya, akad nikah diselenggarakan pada pukul 08.00, namun sepertinya kami tidak akan keburu untuk dapat menyaksikan akad nikah. Alhasil, kami berkeliling untuk mencari santap pagi terlebih dahulu sebelum menghadiri resepsi pukul 11.00. Mencari tempat makan yang tidak direncanakan sebelumnya memang agak sulit-sulit-gampang. Kami pun harus mencari di mesin pencari, tempat makan mana yang menjadi favorit di daerah sekitar Jalan Soekarno Hatta. Setelah memperhitungkan banyak hal, jatuhlah pilihan kami kepada Batagor Riri.

Batagor Riri terletak di Jalan Burungrang, Lengkong. Menu utamanya tentu saja batagor. Mirip-mirip dengan siomay, namun batagor memiliki keunikannya tersendiri. Konsumen pun dapat memilih batagor dengan kuah atau tidak. Menu lain yang tersedia adalah bakso campur. Dengan hanya merogoh kocek sekitar 30--40 ribu rupiah, santapan batagor cukup memuaskan kami, terlebih disaat kondisi hangat.

Selepas santap pagi, kami sempat mencari salon hair-do sekaligus menghabiskan waktu sebelum ke tempat resepsi. Namun, kami tidak dapat menemukan salon yang sudah buka pada pagi itu sehingga meluncurlah langsung kami ke tempat resepsi. Di sana, kami bertemu dengan teman-teman semasa kuliah dulu.  Memang, di acara pernikahan ini kerap menjadi ajang untuk reuni kecil-kecilan untuk teman-teman yang kini sudah jarang bertemu dalam keseharian. Padahal sewaktu kuliah bisa ketemu setiap hari dalam kelas ataupun luar kelas.

Setelah selesai dengan pesta pernikahan, kami beranjak kembali ke mobil dan kembali memutuskan akan melanjutkan perjalanan kemana. Pun, segala usaha kami lakukan termasuk memasukan keyword "Bandung bagusnya dimana" dalam mesin pencari. Beberapa pilihan tempat sempat bermunculan, namun selalu saja ada yang memberatkan hati untuk berangkat. Apalagi panas terik banget di luar sana, jadi agak mikir lagi kalau mau perjalanan outdoor di siang bolong begini. Setelah menyusuri jalan Soekarno Hatta dari ujung-ke-ujung, kami memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan berpergian di sana saja. Terlebih, menghindari macet arus balik pada sore hari nanti.

Setibanya di Jakarta, sore itu kami berkunjung ke daerah Tanjung Priok untuk menikmati makanan laut yang konon sangat ramai saat malam. Banyak pilihan makanan laut mentah yang tersedia seperti kepiting, kerang hijau, kerang dara, udang, cumi, dan masih banyak lagi. Pilihan rasa masakan pun beragam, seperti lada hitam, saus padang, saus rica, goreng tepung. Dengan duduk lesehan dan ditemani buah kelapa, kami siap menunggu datangnya makanan laut yang sudah kami pesan untuk selesai dimasak. Sepertinya, setiap makanan akan dapat memuaskan perut kami yang sudah kembali lapar setelah makan dua kali di hari itu. Dan ternyata memang, gue sangat jatuh hati dengan kerang hijau saus padang. Rasanya meriah banget. Berbeda dengan kerang kiloan yang hanya disantap dengan menggunakan saus, namun kali ini dimasak dengan bumbu yang enak banget.

Dengan perut tergopoh-gopoh, kami kembali ke Rawamangun. Sekaligus mengembalikan sewa mobil yang dijanjikan pada pukul 20.00. Syukurlah, selama perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta tidak menemukan kendala yang berarti pada kendaraan sehingga dapat kembali dengan tanpa tambahan kenang-kenangan yang kami buat.

Tinggal menunggu, selanjutnya kondangan ke kota mana lagi kita?

1 word(s) after:

Aulia Muqarrabin said...

jadi ini short escapenya ke Bandung apa Tj Priok, om? hahaha. cuma berempat aja ini? ah aku menyesal gak bisa ikut :(

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;