24 August 2016

Padatnya Kota Ho Chi Minh

24 August 2016
Awalnya, gue mengira kalau traffic dan kepadatan motor di jalan raya Jakarta sudah paling juara se-Asia Tenggara. Tapi ternyata, ada lagi yang lebih juarak dengan kepadatannya: Kota Ho Chi Minh.

Pertama kali menginjakkan kaki di bandara setempat, masih belum menyadari dengan kepadatan kendaraan bermotor. Tapi sewaktu di bus perjalanan ke Ben Thanh Market, baru mulai cemas dengan pemandangan motor-motor yang terus ada, terus ada, dan terus ada. Apalagi, pas tiba di Ben Thanh untuk melanjutkan perjalanan ke penginapan dan harus menyebrang jalan raya utama, sepertinya menyebrang jalan dengan bergandengan tangan adalah solusi yang cukup membantu, seperti anak-anak bebek aja jadinya. Memang sih, sebelum ke sini sudah diperingatkan kalau harus kudu super hati-hati jalan di kota yang satu itu, terutama kalau kita mau menyebrang jalan raya. Traffic-nya jauh lebih padat dibanding Jakarta. Apalagi, didominasi sama kendaraan roda dua. Motor-motor seperti kayak nyamuk lagi terbang-terbang bergerombol gak ada habis-habisnya.

Kota Ho Chi Minh dulu sebelumnya dikenal dengan nama Saigon. Tapi, nama baru tersebut dipakai untuk mengenang jasa yang dilakukan Ho Chi Minh yang juga seorang negarawan dan politisi yang sangat terkenal di masanya. Selain menjadi kota terpadat, kota ini juga menjadi kota terbesar di Vietnam setelah ibu kota negara, Hanoi. Kalau lihat di peta, Kota HCM berada di satu garis lurus vertikal dengan kota Jakarta, terlebih lagi keduanya dengan zona waktu yang dimiliki sama-sama GMT+7.

Tapi memang, nuansa hidup di kota ini memang gak jauh beda dengan di Jakarta. Selain kepadatan jalannya, kota ini juga seperti kota yang gak pernah tidur. Penduduk setempat akan selalu bergerak dan beraktivitas menyibukkan dirinya dengan segala sesuatu. Mungkin bisa dibilang, terlihat antusias dan ambisius. Namun, setiap pagi dan petang, taman-taman kota juga selalu dipenuhi dengan orang-orang yang berolah raga, bermain musik, atau menghabiskan waktu dengan gosip-gosip lokal masa kini dari anak-anak muda hingga orang tua. Kami juga sempat bertemu dengan anak-anak paruh baya yang sedang berkeliling dari satu orang ke orang yang lainnya untuk menjajakan dagangannya, sepertinya lagi jadi danusan untuk acara sekolah mereka.

Read more >>
Tapi, banyak orang di sini yang juga super baik. Salah satunya adalah petugas hotel tempat kami menginap. Jadi, selepas check-out dari hotel di sini, kami pergi ke Mui Ne dan menginap di sana satu malam. Setelah dari Mui Ne, kami kembali lagi ke HCM untuk melanjutkan penerbangan selanjutnya. The problem is, kami sampai di HCM sekitar jam 4 pagi, sedangkan pesawat kami masih jam 11 nanti. Kami berencana mau ke Ben Thanh Market, tapi sangat gak mungkin buat membawa backpack kami yang besar-besar.

Subuh itu, kami sudah ke hotel-hotel lain yang mungkin aja menyediakan jasa penitipan tas, yang mungkin, hanya untuk beberapa jam aja. Tapi hasilnya nihil. Ga ada hotel yang menyediakan jasa semacam itu. Akhirnya, kami terpikir buat coba di hotel kami menginap sebelumnya. Tidak berharap terlalu banyak, tapi gak salah kalau dicoba dulu. Setibanya di hotel, petugas hotel lagi pada tidur semua. Sekali lagi: semuanya. Kami sudah coba keluar lagi dan masuk lagi, berharap mereka bangun karena suara pintu utama yang gak terkunci, tapi gak bangun juga. Akhirnya kami coba bangunin salah satu dari mereka, seperti petugas-petugas hotel sebelumnya. Kami ceritain lagi, siapa kami, dari mana mau ke mana, apa permasalahan kami, dan ternyata kami dibolehin nitip tas kami di sana selagi kami ke Ben Thanh. Ga pakai bukti, ga pakai tip, percaya aja, dan memang petugasnya baik banget. Mungkin salah satu faktor karena nyawanya belum "nyatu" habis bangun tidur sih.

Selain itu, kota ini juga menyediakan paket wisata melalui agen-agen wisata untuk para pelancong yang datang. Salah satu yang kami pilih adalah Sinh Tourist. Selain berdekatan dengan lokasi penginapan kami dan juga pusat kota, agen tersebut menyediakan banyak paket travel dan banyak juga direkomendasikan oleh mereka yang sudah datang ke sini sebelumnya. Jadi, kami menggunakan agen wisata ini untuk mengakomodasi perjalanan kami di HCM dan di Mui Ne. Sebetulnya, ada juga paket wisata yang bertemakan free-walking tour dengan menggunakan motor bersama dengan orang lokal. Tapi karena keterbatasan waktu, kami gak sempat ikut dalam paket tersebut dan memilih untuk menyusuri kota ini dengan cara kami sendiri aja.


Banyak tempat wisata yang ditawarkan oleh kota ini, seperti museum, kantor pos, tempat ibadah, tempat perbelanjaan, taman-taman kota, dan masih banyak lagi. Namun, tempat yang akan selalu muncul ke permukaan ketika berbicara tentang kota ini adalah kemegahan Reunification Palace. Tempat itu merupakan istana kenegaraan yang kini dibuka secara umum agar dapat dipahami tentang sejarah Vietnam lebih dekat. Banyak sekali sejarah yang menceritakan tentang peperangan yang terjadi antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, serta bagaimana Vietnam memperoleh kemerdekaannya. Di dalam istana itu, akan ada tour guide yang senantiasa menceritakan sejarah dibalik megahnya bangunan yang sudah berumur puluhan tahun tersebut. Pengunjung juga akan ditunjukkan tentang isi dari istana itu, termasuk lantai teratas dan juga ruangan bawah tanah. Terdapat suatu ruang atau jalan bawah tanah yang tidak semua orang dapat masuk. Bahkan para guide pun tidak mengetahui kemana arah jalan tertutup itu mengarah. Konon, jalan itu mengarah ke suatu tempat yang ada di pusat Kota HCM. Ohya, dan tenang saja, guide akan menjelaskan kepada para wisatawan, umumnya dengan menggunakan bahasa inggris, tidak dengan bahasa lokal atau bahasa vietnam.




Lebih jauh tentang sejarah Vietnam, ditunjukkan pada War Remmants yang berisi tentang dokumentasi-dokumentasi, baik itu foto, video, replika, bahkan beberapa lukisan anak-anak yang mengajak para pengunjung untuk dapat memperoleh gambaran tentang apa yang saat perang terjadi. Sungguh banyak cerita haru di sini. Jika ada waktu senggang, bisa disempatkan datang ke sini dan memahami setiap dokumentasi yang dipampang di museum ini.

0 word(s) after:

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;