30 October 2016

Ha Long Bay: As Seen on Internet!

30 October 2016
Ha Long adalah deretan pulau-pulau kecil yang terletak di sebelah timur Kota Hanoi. Awalnya, dulu sempat ragu waktu berencana ke Ha Long, yaitu mending menginap di darat alias pinggir pantai atau di atas kapal laut. Ragunya adalah karena di atas laut untuk satu malam, jelas akan bertemu dengan musuh utama: gelombang ombak yang akan selalu datang. Karena pengalaman pribadi, dulu waktu ada di atas kapal buat persiapan snorkling, pusingnya minta ampun. Tapi modal nekat, akhirnya kami memilih buat menghabiskan malam di atas kapal. Kapan lagi bisa bermalam di atas kapal.

Untuk menuju ke Ha Long, wisatawan harus melakukan booking trip dulu ke biro perjalanan maksimal 1 hari sebelumnya. Pengalaman kami, karena tidak bisa booking melalui agen wisata di Kota Ho Chi Minh atau transaksi kartu kredit, akhirnya kami baru booking 1 hari sebelum kepergian kami. Pilihan kamar pun beragam, mulai dari single bed atau twin bed. Selain itu, wisatawan juga dapat memilih paket wisata apa saja yang hendak diambil, karena setiap penyedia jasa wisata akan menawarkan pilihan-pilhan itinerary yang berbeda-beda pula. Pada saat hari perjalanan, pihak penyedia jasa perjalanan pada pagi hari akan menjemput masing-masing wisatawan dari tiap-tiap penginapan di Kota Hanoi sebelum berangkat ke Ha Long Bay. Perjalanan memakan waktu kurang lebih sekitar 5 jam. Selama perjalanan, rombongan akan berhenti dan beristirahat sejenak di toko oleh-oleh yang ada di perjalanan.

Setiba di pelabuhan, kami langsung menuju kapal kecil atau tender boat untuk menuju kapal besar yang sudah berlabuh di tengah dan sekaligus yang akan menjadi tempat penginapan kami. Rombongan kami, berjumlah 16 orang, disambut baik oleh host di sana. Kami berkumpul di ruang makan sembari disuguhi lap hangat dan welcome drink. Sambil menunggu, kami mulai mengobrol kecil dengan rombongan kami dan saling berkenalan satu sama lain. Tidak lama, makanan siang pun hadir di meja makan kami. Berbincang dengan teman seperjalanan yang berasal dari tempat yang berbeda-beda dapat memperluas wawasan pengetahuan dan juga dapat mempromosikan kebanggaan negara sendiri. Selain itu yang tidak kalah penting adalah dapat melatih conversation skill kami yang sudah jarang untuk dipraktikan sendiri.






Agenda kami setelah itu adalah kayaking. Dengan kembali menggunakan tender boat, kami menuju titik dimulai kayaking. Kami diberikan waktu sekitar 40 menit untuk menikmati keindahan pulau dari dekat, tentunya dengan kayak. Ini adalah kali pertama saya menaiki kayak dan tidak heran kalau kami harus berbenturan dengan batu dan kayak rekan kami di sana. Jadi, singkatnya adalah, untuk berbelok ke kanan, kayuh sebelah kiri. Untuk berbelok ke kiri, kayuh sebelah kanan. Sesimpel itu, tapi tidak cukup simpel untuk diimplementasikan, btw.

Di kawasan kayaking tersebut, akan terlihat sederetan pegunungan batu yang berbatasan dengan laut kehijauan. Tidak ada ombak yang cukup besar sehingga akan lebih mudah untuk menggerakkan kayak kami. Di tempat ini pula, terdapat lubang kecil yang berada di bawah pegunungan dan dapat di lalui dengan kayak secara hati-hati. Selain akan tertetes oleh air-air yang berjatuhan dari atas gua, wisatawan juga dapat menyaksikan pemandangan pegunungan yang luar biasa indah di balik gua tersebut.



Agenda kami selanjutnya adalah menuju Ti Top Island. Konon, Ti Top adalah nama yang diberikan oleh Presiden saat itu, Ho Chi Minh, kepada pejuang Jerman yang datang ke pulau ini. Di sana, kami bisa memilih antara tiga pilihan kegiatan: menaiki bukit, berenang, atau bermain bola di pantai. Tour guide kami mengatakan bahwa kami bebas untuk melakukan apa saja, namun jangan duduk di kursi bambu. Karena untuk duduk di sana, harus membayar terlebih dahulu ke pada pihak pengelola. Duduklah di kursi batu yang dibuat untuk pengunjung secara gratis. Tanpa pikir panjang, kami memilih untuk langsung menaiki puluhan anak tangga dan melihat jajaran pulau di tempat ini.

Tidak sulit untuk kami menaiki anak tangga tersebut, karena anak tangga sudah dibuat sangat nyaman untuk para wisatawan dan dapat dilalui dua lajur naik dan turun. Sesampainya di atas, rasanya aslik puas banget. Melihat pulau-pulau cantik dengan mata sendiri yang selama ini hanya dilihat melalui layar kaca laptop di internet. Tidak bosan-bosan kami melihat keindahan pulau ini. Kami memang diberi waktu sekitar 45 menit berada di pulau ini, dan 35 menit diantaranya kami habiskan untuk menetap di atas bukit, dibandingkan untuk turun dan ikut berenang atau bermain bola pantai, walaupun memang semua rombongan kami telah turun ke bawah terlebih dahulu.



Malam harinya, kami diberi demo masak masakan khas Vietnam. Kami diberikan kesempatan untuk membuat makanan kami sendiri. Tidak sulit sih untuk membuatnya, semacam lumpia-langsung-makan. Walaupun awalnya kami membayangkan demo masak yang "wah". Tapi dengan keterbatasan yang ada, ini pun juga sudah dirasakan "wah". Langsung dilanjutkan dengan menyantap makan malam bersama di ruang makan kapal. Pada saat itu, banyak banget kesempatan kita untuk mengobrol tentang apapun dengan teman satu perjalanan yang datang dari berbagai macam negara. Di grup kami, ada yang datang dari Spanyol, Jerman, Taiwan, Korea Selatan, hingga Amerika. Kami saling berbaur malam itu membicarakan tentang perjalanan kali ini. Tidak heran, mereka banyak yang melakukan perjalanan jauh lebih lama untuk menelusuri Negara Vietnam dan negara-negara lainnya di Asia.

Ha Long Bay belum cukup sampai di situ. Keesokan paginya sebelum kami kembali menempuh perjalanan ke Hanoi, kami mendatangi gua yang dikenal dengan nama Surprising Cave. Sesuai namanya, gua ini memang surprising banget. Tidak jauh dari tempat kami menginap, gua ini mengharuskan wisatawan untuk menaiki tangga dan menyusuri gua yang sudah dibuat dengan sangat apik. Sepanjang gua telah dibuat jalan lebar untuk para pengunjung. Selain itu, di setiap dinding-dinding gua pun senantiasa dihiasi dengan pancaran lampu berbagai warna. Adalah trik yang menarik dari pengelola wisata di tempat ini, yaitu dengan memainkan warna lampu untuk dilukiskan di setiap dinding gua. Setiap pojok gua seakan punya ciri tersendiri dibandingkan dengan pojok-pojok yang lain. Kamera dan ponsel pintar seakan gak bisa menangkap gambar sebagus pemandangan aslinya. Jadi lebih baik menikmati setiap langkah perjalanan dalam gua ini. Oya, tour guide juga menceritakan tentang sejarah gua ini. Yang menarik adalah saat ia menyebutkan bahwa ada beberapa batu yang menyerupai dengan hewan, atau benda-benda lainnya, yang memang mirip. Imajinasi memang harus bebas lepas bangetlah.

0 word(s) after:

Post a Comment

 
◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger TemplatesBlogger Blog Templates;